TAPAK TUAN, KOMPAS.com — Seekor harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) ditemukan mati di kandang ayam milik M Rajab (45), warga Desa Silolo Kecamatan Pasie Raja, Kabupaten Aceh Selatan.
"Harimau berjenis kelamin betina itu ditemukan mati di dalam kandang ayam sekitar pukul 08.00 WIB. Warga menguburkan satwa dilindungi itu," kata Camat Pasie Raja H Rustam di Tapak Tuan, Senin (16/11).
Sebelum dikubur, satwa langka ini lebih dulu dibungkus kain putih. Penguburan tersebut juga disaksikan Kepala Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Safwan, petugas Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), dan Kepala Polsek Pasie Raja Kabupaten Aceh Selatan.
Diperkirakan, harimau yang memiliki panjang sekitar 99 cm, tinggi 62 cm, dan panjang ekor 52 cm itu masuk ke kandang ayam yang berada di belakang rumah M Rajab sekitar pukul 20.00.
Hewan yang hampir punah tersebut diduga tewas akibat kehabisan napas karena terlilit tali yang terdapat di dalam kandang ayam milik warga yang sehari-hari berprofesi sebagai petani itu.
"Untuk mencegah kemungkinan yang tidak diinginkan, harimau yang masih berusia muda itu dikubur di halaman rumah M Rajab," katanya.
Kepala KSDA Aceh Selatan Safwan mengatakan bahwa harimau itu tewas akibat kehabisan napas. Pihaknya telah melaporkan kejadian tersebut ke BKSDA Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.
"Kami sudah melaporkan kejadian ini ke BKSDA provinsi dan diperkirakan masih ada satu harimau lagi yang berkeliaran di pinggiran Desa Silolo itu," katanya.
Selama dua bulan terakhir, gangguan harimau di daerah penghasil pala itu meningkat. Puluhan ternak telah dimangsa raja hutan.
Selain Desa Silolo, Kecamatan Pasie Raja, sejumlah desa lainnya, seperti Jambo Apha, Kecamatan Tapak Tuan, dan Desa Jambo Papeun, Kecamatan Meukek, harimau juga sempat turun ke permukiman.
Kepala Desa Jamboe Papeun Sasmin (44) mengatakan bahwa harimau telah memangsa lima kambing milik Tgk Syahabuddin, Tgk Anshari, dan M Nasir Nas, serta 39 ayam dan itik milik masyarakat lainnya.
"Warga melihat harimau di ladang ubi yang berada di dusun Kuta Batee yang berjarak sekitar satu kilometer dari permukiman penduduk. Sebenarnya warga sangat takut dan cemas untuk berkebun. Namum, aktivitas itu harus tetap dilaksanakan guna memenuhi kebutuhan sehari-hari," kata Sasmin.
suatu makna kegagalan dan kekalahan
tanpa harus menyalahkan siapa-siapa, tanpa harus menyesali apapun,, yang harus kita lakukan adalah menatap ke depan tanpa harus menengok ke belakang, hanya sesekali saja kita perlu mengingatnya dengan hati yang ikhlas tentunya..
Selasa, 17 November 2009
Harimau Langka Itu Mati di Kandang Ayam
Harimau Langka Itu Mati di Kandang Ayam
TAPAK TUAN, KOMPAS.com — Seekor harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) ditemukan mati di kandang ayam milik M Rajab (45), warga Desa Silolo Kecamatan Pasie Raja, Kabupaten Aceh Selatan.
"Harimau berjenis kelamin betina itu ditemukan mati di dalam kandang ayam sekitar pukul 08.00 WIB. Warga menguburkan satwa dilindungi itu," kata Camat Pasie Raja H Rustam di Tapak Tuan, Senin (16/11).
Sebelum dikubur, satwa langka ini lebih dulu dibungkus kain putih. Penguburan tersebut juga disaksikan Kepala Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Safwan, petugas Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), dan Kepala Polsek Pasie Raja Kabupaten Aceh Selatan.
Diperkirakan, harimau yang memiliki panjang sekitar 99 cm, tinggi 62 cm, dan panjang ekor 52 cm itu masuk ke kandang ayam yang berada di belakang rumah M Rajab sekitar pukul 20.00.
Hewan yang hampir punah tersebut diduga tewas akibat kehabisan napas karena terlilit tali yang terdapat di dalam kandang ayam milik warga yang sehari-hari berprofesi sebagai petani itu.
"Untuk mencegah kemungkinan yang tidak diinginkan, harimau yang masih berusia muda itu dikubur di halaman rumah M Rajab," katanya.
Kepala KSDA Aceh Selatan Safwan mengatakan bahwa harimau itu tewas akibat kehabisan napas. Pihaknya telah melaporkan kejadian tersebut ke BKSDA Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.
"Kami sudah melaporkan kejadian ini ke BKSDA provinsi dan diperkirakan masih ada satu harimau lagi yang berkeliaran di pinggiran Desa Silolo itu," katanya.
Selama dua bulan terakhir, gangguan harimau di daerah penghasil pala itu meningkat. Puluhan ternak telah dimangsa raja hutan.
Selain Desa Silolo, Kecamatan Pasie Raja, sejumlah desa lainnya, seperti Jambo Apha, Kecamatan Tapak Tuan, dan Desa Jambo Papeun, Kecamatan Meukek, harimau juga sempat turun ke permukiman.
Kepala Desa Jamboe Papeun Sasmin (44) mengatakan bahwa harimau telah memangsa lima kambing milik Tgk Syahabuddin, Tgk Anshari, dan M Nasir Nas, serta 39 ayam dan itik milik masyarakat lainnya.
"Warga melihat harimau di ladang ubi yang berada di dusun Kuta Batee yang berjarak sekitar satu kilometer dari permukiman penduduk. Sebenarnya warga sangat takut dan cemas untuk berkebun. Namum, aktivitas itu harus tetap dilaksanakan guna memenuhi kebutuhan sehari-hari," kata Sasmin.
Sistem Keplanetan Yang Semrawut
Sebelum planet-planet menemukan jalannya untuk memiliki orbit yang stabil seperti saat ini, mereka bergoyang dan dorong-mendorong seperti halnya anak-anak kecil yang tidak bisa tenang.
Saat ini, teleskop Spitzer milik NASA berhasil menemukan bintang muda dengan bukti orbit hiperaktif yang mirip. Planet muda tersebut mengelilingi bintang yang diperkirakan merupakan objek mirip komet yang mengalami gangguan dan mengakibatkan terjadinya tabrakan sehingga melepas debu halo yang sangat besar.
Bintang tersebut, HR 8799 pada bulan November 2008 lalu diberitakan sebagai bintang pertama dari dua bintang yang citranya terekam memiliki planet. Teleskop landas Bumi di Observatorium W.M Keck dan Observatorium Gemini yang berada di HAwaii, merekam citra dari 3 planet yang mengorbit pada area yang cukup jauh dari sistem, dengan massa ketiganya sekitar 10 massa jupiter. Planet lainnya yang terekam juga diumumkan pada saat yang sama dengan bintang Fomalhaut. Fomalhaut ditemukan dan dipotret oleh Teleskop Hubble milik NASA. HR 8799 dan Fomalhaut merupakan bintang muda yang jauh lebih masif dari Matahari.

Citra inframerah halo debu raksasa yang berada di sekitar bintang HR 8799. kredit : NASA/Spitzer
Sebelumnya, para astronom telah menggunakan Hubble dan Spitzer untuk mengambil citra piringan yang berotasi dari puing-puing keplanetan di sekitar Fomalhaut, yang jaraknya 25 tahun cahaya dari Bumi. Bintang HR 8799 jaraknya 5 kali lebih jauh sehingga para ilmuwan sendiri meragukan apakah Spitzer mampu memotret piringannya. Ternyata… Spitzer berhasil.
Menurut Kate Su dari Universitas Arizona, sekaligus pimpinan tim peneliti sistem di HR 8799, “awan debu raksasa yang mengelilingi piringan itu sangat tidak biasa. Debu tersebut diperkirakan berasal dari tabrakan antar benda kecil yang mirip komet atau obyek es yang membentuk sabuk Kuiper di Tata Surya”. Gravitasi ketiga planet raksasa ini menyebabkan benda-benda yang lebih kecil terlontar dan bermigrasi di area sekeliling atau bertabrakan satu sama lainnya. Bahkan para astronom memperkirakan kalau ketiga planet tersebut masih belum bisa dipastikan kapan akan mencapai orbit yang stabil. Dengan demikian masih banyak kekerasan yang akan terus terjadi.
Sistem mengalami keadaan yang kacau dan semrawut. Tabrakan terjadi dimna-mana dan memenuhi awan besar itu dengan debu halus. Yang menarik, para ilmuwan berhasil mendapatkan hubungan langsung antara piringan planet dan planet yang terekam dalam citra. Penelitian pada piringan sudah lama dilakukan, dan hanya bintang HR 8799 dan Fomalhaut yang merupakan dua contoh sistem yang dapat dipelajari hubunganya antara lokasi planet dan piringan.
Saat Tata Surya masih muda, ia juga melewati proses migrasi yang mirip. Jupiter dan Saturnus bergerak berkeliling, mengalami tabrakan dan melemparkan komet ke sekelilingnya bahkan kadang ke Bumi. Bahkan ada teori yang mengatakan kalau kejadian ekstrim pada fasa inilah yang dikenal dengan nama tabrakan besar (heavy bombardment), fasa yang diyakini dapat menjelaskan bagaimana Bumi memiliki air. Diperkirakan, komet yang mirip bola saljulah yang telah menghantam Bumi dan membawa cairan favorit penduduk Bumi, air.
Sumber : NASA/JPL/Spitzer
Supernova Dalam Teori Itu Benar – Benar Ada
Para astronom berhasil mengidentifikasi supernova jenis baru yang pada awalnya hanya bisa diprediksi oleh teori dan belum pernah ada contoh yang bisa diamati. Supernova yang sedang meledak ini ditemukan para peneliti dari Berkeley ternyata memiliki ledakan yang sebelumnya hanya bisa diperhitungkan secara teoretis.

aliran massa di antara bintang katai putih. kredit : Tony Piro
Dua tahun yang lalu, Lars Bildsten, profesor dari UCSB’s Kavli Institute for Theoretical Physics (KITP), beserta koleganya memprediksi keberadaan tipe baru dari supernova di galaksi jauh yang mereka sebut sebagai mekanisme tipe .Ia (koma Ia). Mekanisme ini diperkirakan melibatkan peledakan helium di katai putih yang melontarkan selubung kecil material. Ledakan teoretis ini diprediksi akan lebih redup dari sebagian besar supernova dan kecerlangannya akan mengalami naik turun hanya dalam beberapa minggu.
Perkiraan ini ternyata mendapat respon para astronom kalau supernova dengan perilaku seperti itu belum pernah terlihat. Nah, menurut Bildsten, saran yang ia berikan adalah teruslah mencari.
Adalah Dovi Pozananski, postdoctoral dari UC Berkeley yang menemukan supernova jenis ini dari hasil pengamatan yang ia lakukan pada tahun 2002, 7 tahun yang lalu. Supernova 2002bj yang ditemukan Dovi Pozanski dan kawan-kawannya ini memang memiliki kategori tersendiri karena spektrum yang dihasilkan menunjukan kalau ia berevolusi sangat cepat dan menghasilkan kombinasi elemen yang tidak umum.
Pada umumnya, supernova diklasifikasikan berdasarkan spektrum garis emisinya. Ada 2 tipe utama dalam pembagian kelas Supernova, yakni Tipe I dan tipe II. Supernova tipe I spektrumnya sukar ditafsirkan dan memiliki magnitudo mutlak mencapai 16, sedangkan supernova tipe II memiliki kecerlangan kira-kira 2 magnitud lebih lemah dengan spektrum mirip nova namun memiliki garis emisi lebih lebar dan kecepatan pelontaran yang lebih besar. Kedua tipe utama dalam supernova juga diperkirakan berasal dari ledakan bintang katai putih atau keruntuhan bintang masif.
Sebagian besar bintang memang mengakhiri hidupnya menjadi bintang katai putih dengan massa setara massa Matahari namun ukuran setara dengan radius Bumi. Akibatnya bintang itu menjadi sangat padat. Meskipun padat, obyek-obyek ini terbentuk dari campuran karbon dan oksigen ataupun dari helium murni, akan mengalami pendinginan dan temperaturnya demikian rendah sehingga tidak dapat menyokong terjadinya reaksi fusi. Nah pada kondisi tertentu dan memang cukup langka, dua obyek ini akan berada sangat dekat, saling mengorbit hanya dalam beberapa menit, seperti layaknya bintang ganda. Pada kondisi tersebut, akan terjadi aliran massa, dan disini heliumnya mengalir dari satu bintang katai putih ke bintang lainnya dan terakumulasi pada bintang katai putih yang lebih masif.
Peristiwa yang cukup langka ini kemudian memicu terjadinya kondisi yang sangat unik yakni pembakaran ternonuklir yang sangat eksplosif dan terjadilah lontaran lautan kelium yang sudah terakumulasi tadi. Elemen radioaktif yang tidak umum terbentuk berlebihan dalam peleburan yang sangat cepat justru memicu terjadinya cahaya terang yang tampak pada materi tersintesa dan baru akan berakhir setelah beberapa minggu.
Peristiwa yang menimbulkan terang dari ledakan termonuklir di bintang katai putih memang sudah dikenal selama beberapa dekade dan digolongkan sebagai supernova tipe Ia. Mereka biasanya lebih terang dari seluruh galaksi selama lebih dari satu bulan dan sangat berguna dalam melakukan studi kosmologi. Kejadian yang diprediksi Bildsten dan kolaboratornya hanya memiliki kecerlangan satu per sepuluh untuk satu per sepuluh waktu dan kemudian dikenal sebagai supernova tipe .Ia (koma Ia).
Supernova 2002bj yang ditemukan Pozanski cocok dengan kriteria supernova tipe .Ia yang belum pernah teramati sebelumnya tersebut. Supernova 2002bj merupakan supernova yang berevolusi sangat cepat, sekitar 3-4 kali lebih cepat dari supernova pada umumnya dan kemudian menghilang dalam 20 hari. Kecerlangannya langsung redup begitu saja. Menurut Poznanski seperti yang ia sampaikan pada Universe Today, ia sebenarnya tengah mencari Supernova Tipe II saat ia kemudian menemukan 2002bj. Reaksi pertamanya adalah kebingungan sampai kemudian ia menemukan kalau supernova yang ia lihat cocok dengan tipe .Ia. Ponanzki dan timnya kemudian melakukan analisa ulang dari data mereka untuk mendapatkan lebih banyak kepastian.
Ledakan yang dilihat pada 2002bj memang berbeda jika dibanding dengan ledakan pada tipe Ia, karena bintang katai putih lolos dari ledakan selubung helium. Pada kenyataannya, ada kemiripan dari 2002bj dengan nova dan supernova. Nova terjadi saat materi – dalam hal ini hidrogen- runtuh ke dalam bintang dan terakumulasi dalam selubung sehingga mengalami pembakaran singkat saat ledakan termonuklir. Nah, si 2002bj ini adalah “super” nova yang menghasilkan energi 1000 kali dari nova standar.
Sumber : University of California Santa Barbara, Universe Today
Asteroid 2009 VA Melintasi Bumi
Sebuah asteroid baru ditemukan dan dinamai 2009 VA, berukuran hanya 7 meter dan melintasi Bumi pada jarak 14000 km dari permukaan Bumi tanggal 6 November 2009. Asteroid ini merupakan asteroid ketiga terdekat yang diketahui mendekati Bumi.
Dua asteroid lainnya adalah asteroid berukuran 1 meter 2008 TS26, yang melintas permukaan Bumi 6150 km tanggal 9 Oktober 2008 dan asteroid FU162 yang berukuran 7 meter dan melewati Bumi pada jarak 6535 km pada 31 Maret 2004. Secara umum, obyek seukuran 2009 VA akan melintas Bumi pada jarak terdekat sekitar 2 kali setahun dan menghantam Bumi setiap 5 tahun.
Asteroid 2009 VA ditemukan oleh Catalina Sky Survey sekitar 15 jam sebelum ia mendekat dan langsung teridentifikasi oleh Minor Planet center di Cambridge MA sebagai obyek yang akan segera mendekati Bumi. Hasil komputasi orbit yang dilakukan Near-Earth Object Program Office dari JPL menunjukan kalau asteroid ini tidak akan menabrak Bumi. Tapi 13 bulan lalu obyek yang lebih kecil 2008 TC3 ditemukan pada kondisi yang mirip namun dengan lintasan menuju Bumi dan kemungkinan tabrakan hanya dalam waktu 11 jam.
Sedangkan pada tanggal 8 Oktober 2009 jam 10.00 wib, terjadi ledakan bola api yang teramati sekaligus juga terekam di salah satu pulau di Indonesia. Kejadian tersebut tampak di Bone dan diperkirakan sebagai ledakan yang berasal dari asteroid kecil yang memasuki atmosfer Bumi dengan diameter 10 meter. Sebagai akibat dari tekanan atmosfer, obyek tersebut meledak di atmosfer dengan kekuatan sekitar 50 kilo ton (setara dengan ledakan 110 juta pon TNT). Kejadian ledakan bola api dengan magnitud seperti di Bone diperkirakan bisa terjadi satu kali dalam 2 – 12 tahun.
Secara umum, asteroid batuan tidak akan mengakibatkan kerusakan di permukaan Bumi kecuali diameternya sekitar 25 meter atau lebih.
Sumber : Near Earth Object Program, NASA JPL
Minggu, 25 Oktober 2009
Ayo Gabung Kampanye 350. Berani?!
"Keseluruhan upaya Kampanye 350. Berani?! merupakan ajakan untuk berpartisipasi atas keprihatinan kita sebagai komponen masyarakat, meneguhkan komitmen agar berperan aktif dan menjadikan individu diri kita sebagai bagian dari solusi krisis perubahan iklim," tegas Dr Amanda Katili-Niode, selaku Manager TCP-Indonesia dalam siaran persnya.
Kampanye 350. Berani?! dilakukan oleh para presenter TCP-Indonesia terpilih, 54 orang presenter, yang dilatih langsung oleh AlGore, pendiri The Climate Project dan penerima penghargaan Nobel. Relawan TCP-Indonesia secara sukarela dan serentak melakukan presentasi pada 23 Oktober 2009 di berbagai perguruan tinggi dan akademi, kemudian pada 24 Oktober 2009 melaksanakan rangkaian acara Klinik Gaya Hidup Hijau dan penandatanganan deklarasi menggunakan canting di atas kain batik di Teater Utan Kayu dan dilanjutkan di Darmawangsa Square The City Walk.
Gerakan Kampanye 350. Berani?! merupakan bagian dari berbagai kampanye yang dilakukan dalam rangka mempersiapkan kesadaran dan komitmen menuju COP 15 UNFCCC di Kopenhagen, Denmark. Kunci pesan kampanye adalah 350. mengacu pada 350.ppm, yaitu tingkat konsentrasi CO2 di atmosfer yang aman bagi Bumi dan seisinya.
Menurut laporan Inter-governmental Panel on Climate Change (IPCC), panel antar-bangsa yang terdiri dari 1.300 lebih ilmuwan dan pakar ilmiah dunia pada Fourth Assessment Report, sebanyak 90 persen aktivitas manusia selama 250 tahun terakhir telah membuat planet kita semakin panas. Utamanya sejak Revolusi Industri, tingkat karbon dioksida atau CO2 itu beranjak naik, mulai dari 280.ppm menjadi 379.ppm dalam 150 tahun, tertinggi sejak 650.000 tahun terakhir! Bahkan, tingkat karbon dioksida pada September lalu sudah mencapai 384,78.ppm.
Level 384,78.ppm yang tercatat sekarang diprediksikan akan terus meningkat sebanyak 2.ppm tiap tahunnya, tingkat setinggi itu sudah dinilai membahayakan karena bisa mengakibatkan perubahan iklim yang mengerikan karena akan berdampak pada penipisan ketahanan pangan, peningkatan intensitas badai, kelangkaan spesies. Khusus di negara kepulauan seperti Indonesia, hal itu berdampak besar pada kenaikan suhu permukaan air laut yang mengakibatkan kadar asam di laut meninggi (asidifikasi) dan mengganggu pola alami ekosistem lautan yang berdampak pada perubahan suhu global, arus, dan angin.
IPCC juga menyimpulkan bahwa 90 persen gas rumah kaca (GRK) yang dihasilkan manusia selama 50 tahun ini telah secara drastis menaikkan suhu Bumi. Sebelum masa industri, aktivitas manusia tidak banyak mengeluarkan GRK. Akan tetapi, pertambahan penduduk, pembabatan hutan, industri peternakan, dan penggunaan bahan bakar fosil, seperti karbon dioksida, metana, dan dinitrogen oksida, menyebabkan GRK di atmosfer bertambah banyak dan menyumbang pada pemanasan global.
Sumber : Kompas.com
Europa Dapat Mendukung Kehidupan
Pernah dengar tentang keberadaan air di Europa? Satelit yang satu ini sudah sejak lama diperkirakan memiliki air dan diharapkan bisa memiliki kehidupan. Lautan global di Europa bahkan dua kali lebih banyak dari seluruh air di Bumi.
Penelitian terbaru dari Richard Greenberg dari Universitas Arizona menunjukkan kelimpahan oksigen yang dapat mendukung kehidupan di lautannya. Kali ini jumlah oksigennya seratus kali lebih banyak dari yang diperkirakan sebelumnya.
Kemungkinan adanya kehidupan di Europa memang masih tidak dapat dipastikan. Bagaimana tidak, lautan yang ada di satelit Jupiter itu berada beberapa mil di bawah es yang memisahkannya dari oksigen yang terbentuk di permukaan oleh partikel bermuatan. Tanpa oksigen, kehidupan masih mungkin ada di sumber air panas di dasar lautan melalui metabolisme kimiawi, yang berdasarkan pada sulfur atau produksi metana. Tapi lagi-lagi masih belum bisa dipastikan apakah dasar lautan memiliki lingkungan yang dapat mendukung kehidupan seperti itu.
Pada akhirnya, sebuah pertanyaan penting muncul yakni apakah ada cukup oksigen yang dapat mencapai lautan sehingga dapat mendukung proses metabolisme berbasis oksigen seperti yang kita kenal. Jawabannya muncul dari perkiraan permukaan Europa kala masih muda. Kondisi geologi dan kurangnya kawah akibat tabrakan menunjukan kondisi lapisan teratas es-nya yang mengalami pembaharuan secara terus menerus. Diperkirakan permukaan Euroa sekarang baru berusia 50 juta tahun, sekitar 1% dari usia Tata Surya.
Greenberg juga mengemukakan 3 proses umum terjadinya permukaan : peletakkan materi baru di permukaan secara berkala, proses pembukaan celah yang kemudian mengisi permukaan dengan es baru dari bawah, dan proses megganggu potongan permukaan yang ada dan menggantikannya dengan materi baru. Dari perkiraan pembentukan oksidan di permukaan, bisa diketahui laju hataran ke lautan itu demikian cepat dan konsentrasi oksigen bisa melampaui konsentrasi di lautan di Bumi hanya dalam beberapa juta tahun.
Bahkan diperkirakan, konsentrasi oksigen akan cukup banyak untuk mendukung tidak saja mikroorganisme melainkan juga fauna makro, hewan yang lebih kompleks – mirip organisme dengan kebutuhan oksigen yang lebih tinggi. Perbekalan oksigen yang terus menerus ini dapat mendukung sekitar 3 milyar kilogram makrofauna, dengan asumsi kebutuhan permintaan oksigennya setara dengan ikan di Bumi.
Nah, kabar baiknya, asal mula kehidupan di Europa ini bisa jadi mengalami penundaan selama beberapa milyar tahun sebelum oksigen pertama di permukaan mencapai lautan. Jika tidak ada keterlambatan ini makan pre-biotik kimia pertama dan struktur organik primitif pertama akan mengalami gangguan oleh oksidasi. Oksidasi ini membahayakan, kecuali jika si organisme telah berevolusi dan memiliki perlindungan dari efek bahaya itu.
Perlambatan yang serupa dalam hal pembentukan oksigen di Bumi tampaknya memiliki peran yang penting di awal pertumbuhan kehidupan.
Sumber : langitselatan.com
Kalkulasi Elektronegativitas
Elektronegativitas Pauling
Pauling pertama kali mengajukan[2] konsep elektronegativitas pada tahun 1932 sebagai penjelasan dari fenomena lebih kuatnya ikatan kovalen antar dua atom berbeda (A–B) dari yang diperkirakan dengan mengambil kekuatan rata-rata ikatan A–A dan B–B. Menurut teori ikatan valensi, "stabilisasi tambahan" dari ikatan heteronuklir ini disebabkan oleh kontribusi bentuk kanonis ion kepada ikatan.
Perbedaan elektronegativitas antara dua atom A dan B dapat dihitung dengan:
dengan Energi disosiasi (Ed) ikatan A–B, A–A dan B–B diekspresikan dalam elektronvolt. Faktor (eV)−½ disisipkan untuk menghasilkan nilai yang tidak berdimensi. Dengan metode ini, perbedaan elektronegativitas antara hidrogen dan bromin adalah 0.73 (energi disosiasi: H–Br, 3.79 eV; H–H, 4.52 eV; Br–Br 2.00 eV)
Oleh karena hanya perbedaan elektronegativitas yang dapat dihitung, kita perlu memilih sebuah titik acuan untuk membangun skala. Hidrogen dijadikan acuan karena ia membentuk ikatan kovalen dengan hampir semua unsur. Nilai elektronegativitasnya pertama kali ditentukan[2] sebagai 2,1, namun kemudian direvisi[5] menjadi 2,20. Selain itu, kita juga perlu memutuskan unsur manakah (dari dua unsur) yang memiliki elektronegativitas lebih besar. Pemutusan ini dapat dilakukan dengan menggunakan "intuisi kimia", misalnya pada hidrogen bromida yang terlarut dalam air membentuk H+ dan Br−, kita dapat berasumsi bahwa bromin lebih elektronegatif daripada hidrogen.
Untuk menghitung elektronegativitas Pauling sebuah unsur, kita memerlukan data energi disosiasi dari paling sedikit dua jenis ikatan kovalen yang dibentuk oleh unsur tersebut. Allred memutakhirkan nilai elektronegativitas Pauling pada tahun 1961 dengan melibatkan data-data termodinamika[5]. Nilai-nilai elektronegativitas Pauling yang direvisi inilah yang biasanya sering digunakan.
[sunting] Elektronegativitas Mulliken
Mulliken mengajukan bahwa purata aritmetik dari energi ionisasi pertama dan afinitas elektron haruslah adalah sebuah perhitungan dari kecenderungan sebuah atom menarik elektron-elektron.[6][7] Karena definisi ini tidak bergantung pada skala relatif sembarang, ia juga disebut sebagai elektronegativitas relatif,[8] dengan satuan kilojoule per mol atau elektronvolt.
Namun biasanya kita menggunakan transformasi linear untuk melakukan transformasi nilai absolut tersebut menjadi nilai yang lebih mirip dengan nilai Pauling. Untuk energi inonisasi dan afinitas elektron dalam elektronvolt,[9]
dan untuk energi dalam kilojoule per mol,[10]
Elektronegativitas Mulliken hanya dapat dihitung pada unsur-unsur yang afinitas elektronnya telah diketahui. Sampai dengan tahun 2006, terdapat 57 unsur yang afinitas elektronnya telah diketahui.
[sunting] Elektronegativitas Allred–Rochow
Allred dan Rochow beranggapan[11] bahwa elektronegativitas haruslah berhubungan dengan muatan sebuah elektron pada "permukaan" sebuah atom: semakin tinggi muatan per satuan luas permukaan atom, semakin besar kecenderungan atom tersebut untuk menarik elektron-elektron. Muatan inti efektif, Z* yang terdapat pada elektron valensi dapat diperkirakan dengan menggunakan kaidah Slater. Sedangkan luas permukaan atom pada sebuah molekul dapat dihitung dengan asumsi luas ini proposional dengan kuadrat jari-jari kovalen (rcov). rcov memiliki satuan ångström,
[sunting] Elektronegativitas Sanderson
Sanderson menemukan bahwa terdapat hubungan antara elektronegatvitas dengan ukuran atom dan mengajukan sebuah metode perhitungan yang didasarkan pada timbalbalikan volume atom.[12] Dengan panjang ikatan yang telah diketahui, elektronegativitas Sanderson memperbolehkan kita memperkirakan energi ikatan pada berbagai senyawa.[13] Selain itu, elektronegativitas Sanderson juga digunakan dalam berbagai investigasi kimia organik.[14][15]
[sunting] Elektronegativitas Allen
Definisi elektronegativitas Allen adalah salah satu yang paling saderhana. Ia mengajukan bahwa elektronegativitas berhubungan dengan energi rata-rata dari elektron valensi pada sebuah atom bebas,[16]
dengan εs,p adalah energi satu elektron dari elektron-elektron s dan p pada atom bebas dan ns,p adalah jumlah elektron s dan p pada kelopak valensi. Biasanya nilai tersebut diberikan faktor skala, 1,75×10−3 untuk energi dalam kilojoule per mol atau 0,169 untuk energi dalam elektronvolt, untuk menghasilkan nilai yang secara numeris mirip dengan elektronegativitas Pauling.
Energi satu elektron dapat ditentukan secara langsung dari data spektroskopi, sehingga elektronegativitas yang dihitung dengan metode ini kadangkala dirujuk sebagai elektronegativitas spektroskopik. Data-data yang diperlukan tersedia untuk hampir semua unsur, sehingga memperbolehkan kita memperkirakan nilai elektronegativitas unsur-unsur yang tidak bisa dihitung dengan metode lainnya, misalnya fransium dengan nilai elektronegativitas allen = 0,67. [17] Namun tidaklah jelas apa yang seharusnya dianggap sebagai elektron valensi untuk unsur-unsur blok d dan f, sehingga menyebabkan ambiguitas dalam perhitungan elektronegativitas menggunakan metode Allen.
Dalam skala ini, Neon memiliki elektronegativitas yang paling besar, diikuti oleh fluorin dan helium.
Daftar elektronegativitas Allen untuk golongan-golongan unsur utama
Baru-baru ini, sebuah skala elektronegativitas baru yang didasarkan pada elektrofilisitas sistem kimia diajukan oleh Noorizadeh and Shakerzadeh[18]. Dalam skala ini terlihat bahwa ia mempunyai korelasi yang signifikan dengan elektronegativitas Pauling dan Allred-Rochow.
Selasa, 22 September 2009
Asal Mula Nama Krakatau
Nama Krakatau bermula dari beberapa pelayar yang memetakan wilayah Indonesia saat mereka melakukan ekspedisi untuk mencari rempah-rempah seperti van Linschoten, Blaen, Willem Lodewijksz, Hondius, Visscher dan Lucas Janszoon Waghenaer. Van Linschoten belum mampu menamai pulau tersebut (pulau Krakatau) dan tidak dapat mendeteksi adanya gunung runcing di pulau itu. Sedangkan Willem Lodewijksz mencatat begitu banyak pulau kecil di selat itu (Selat Sunda). Waghenaer lah yang pertama-tama menggambarkan pulau itu dan menamakannnya yang kemudian menjadi akrab di telinga kita.
Ada sebuah laporan kuno yang dibuat oleh seorang pastur Jesuit Prancis, Guy Tachard, yang mengisyaratkan bahwa nama tersebut sebetulnya adalah onomatopoeia (kesamaan bunyi dengan sesuatu yang lain). Dalam buku lognya, ia menulis bahwa ”kami dua kali memutari pulau Cacatoua, yang disebut demikian karena burung-burung putih yang hidup di pulau itu, yang tidak henti-hentinya mengicaukan nama itu.”
Ada lagi yang menganggap bahwa Krakatoa atau Krakatau pada dasarnya berasal dari salah satu dari tiga kata, karta-karkata, karkataka, atau rakata, yang merupakan kata-kata Sansekerta dan menurut orang Jawa kuno berarti ”udang” atau ”kepiting”. Ada sebuah kata Melayu, kelakatoe, yang berarti ”semut putih yang bisa terbang”.
Apapun arti kata Krakatau dan bagaimana asal mulanya, yang kita ketahui adalah sebuah gunung runcing yang berada di suatu pulau yang begitu eksotik tapi juga berbahaya.
Primadona Rempah Indonesia
Semua orang pasti tahu bahwa Belanda datang ke
Primadona rempah Indonesia yang pertama saat itu adalah merica, cengkih, dan pala. Beberapa pembuktian bahwa cengkih, pala dan merica sangat penting dan berharga waktu itu adalah sebagai berikut :
1. orang-orang Cina dari Dinasti Han mewajibkan para pegawai istana menyapa para kaisar hanya setelah mulut mereka diperharum dengan sejumput cengkih Jawa.
2. para pendeta Romawi mungkin sekali menggunakan pala sebagai dupa dan juga digunakan sebagai penyedap masakn di Konstantinopel pada abad kesembilan.
3. di zaman ratu Elizabeth, ramuan jamu pala harus tersedia untuk mengusir penyakit-penyakit yang menjengkelkan.
4. Alaric, raja Visigoth, pernah menuntut lebih dari satu ton merica dari orang-orang Romawi sebagai tebusan ketika ia menyerbu kota itu pada 410 M.
Aurora dan Kryptonite
Aurora dan kryptonite adalah dua buah kata yang menurut saya sangat unik, keren, penuh misteri dan indah. Mereka mengandung cahaya-cahaya yang unik yang mengandung makna berbeda walaupun keduanya berasal dari dunia yang berbeda. Maksud dari dua dunia yang berbeda karena aurora merupakan sebuah fenomena yang terjadi di sekitar kutub Utara dan Selatan sedangkan kryptonite merupakan hasil karya fiksi dari sebuah cerita Superman. Berikut akan saya paparkan mengenai dua kata tersebut.


Pertama kali saya mend
engar kata-kata aurora dari sebuah film fiksi luar negeri berjudul The Golden Compass. The Golden Compass adalah cerita pertama dari trilogy “His Dark Materials” sebuah novel karangan Philip Pullman. Film ini menceritakan bagaimana seorang cendikiawan menunjukkan slide berupa gambar sebuah
Kryptonite
Kalau Anda seorang penggemar Superman pasti sudah tahu mengenai batu kryptonite. Batu kryptonite adalah batu meteor yang berasal dari planet Krypton yang konon planet asal Clark Kent ( Kal-el, Superman). Dari serial cerita Superman, Smallville, dapat diketahui bahwa ada beberapa warna dari batu kryptonite. Batu yang berwarna hijau lebih sering ditemui dan batu ini akan dapat melemahkan segala kekuatan yang dimiliki oleh Clark. Batu berwarna merah dapat membuat
Ternyata batu kryptonite juga bukan hanya sebuah cerita fiksi. Ditemukan sebuah mineral yang memiliki nama ilmiah mirip dengan batu kryptonite yang dicuri Lex Luthor dari museum pada film Superman Returns. Mineral tersebut diteliti oleh para ahli dari


![\chi_{\rm A} - \chi_{\rm B} = ({\rm eV})^{-1/2} \sqrt{E_{\rm d}({\rm AB}) - [E_{\rm d}({\rm AA}) + E_{\rm d}({\rm BB})]/2}](http://upload.wikimedia.org/math/d/7/4/d74424c73fed8531b863e9a58ec30f6a.png)



