suatu makna kegagalan dan kekalahan

kegagalan dan kekalahan adalah sebuah kata yang sangat ampuh untuk membuat kita belajar menjadi orang yang lebih baik lagi,,
tanpa harus menyalahkan siapa-siapa, tanpa harus menyesali apapun,, yang harus kita lakukan adalah menatap ke depan tanpa harus menengok ke belakang, hanya sesekali saja kita perlu mengingatnya dengan hati yang ikhlas tentunya..

Selasa, 22 September 2009

Asal Mula Nama Krakatau

Nama Krakatau bermula dari beberapa pelayar yang memetakan wilayah Indonesia saat mereka melakukan ekspedisi untuk mencari rempah-rempah seperti van Linschoten, Blaen, Willem Lodewijksz, Hondius, Visscher dan Lucas Janszoon Waghenaer. Van Linschoten belum mampu menamai pulau tersebut (pulau Krakatau) dan tidak dapat mendeteksi adanya gunung runcing di pulau itu. Sedangkan Willem Lodewijksz mencatat begitu banyak pulau kecil di selat itu (Selat Sunda). Waghenaer lah yang pertama-tama menggambarkan pulau itu dan menamakannnya yang kemudian menjadi akrab di telinga kita.

Ada sebuah laporan kuno yang dibuat oleh seorang pastur Jesuit Prancis, Guy Tachard, yang mengisyaratkan bahwa nama tersebut sebetulnya adalah onomatopoeia (kesamaan bunyi dengan sesuatu yang lain). Dalam buku lognya, ia menulis bahwa ”kami dua kali memutari pulau Cacatoua, yang disebut demikian karena burung-burung putih yang hidup di pulau itu, yang tidak henti-hentinya mengicaukan nama itu.”

Ada lagi yang menganggap bahwa Krakatoa atau Krakatau pada dasarnya berasal dari salah satu dari tiga kata, karta-karkata, karkataka, atau rakata, yang merupakan kata-kata Sansekerta dan menurut orang Jawa kuno berarti ”udang” atau ”kepiting”. Ada sebuah kata Melayu, kelakatoe, yang berarti ”semut putih yang bisa terbang”.

Apapun arti kata Krakatau dan bagaimana asal mulanya, yang kita ketahui adalah sebuah gunung runcing yang berada di suatu pulau yang begitu eksotik tapi juga berbahaya.



Primadona Rempah Indonesia

Semua orang pasti tahu bahwa Belanda datang ke Indonesia karena pertama tertarik pada rempah-rempah yang begitu banyak terdapat di Indonesia, bukan dengan kopi atau teh yang banyak kita kenal sekarang. Mengapa mereka sangat tertarik pada rempah-rempah? Karena ternyata harga rempah-rempah di luar negeri saat itu sangat mahal sedangkan mereka membelinya dengan sangat murah atau mungkin gratis dengan mengambilnya. Oleh karena itu, rempah-rempah merupakan dasar kekayaan bagi para orang barat yang datang ke Indonesia terutama Belanda.

Primadona rempah Indonesia yang pertama saat itu adalah merica, cengkih, dan pala. Beberapa pembuktian bahwa cengkih, pala dan merica sangat penting dan berharga waktu itu adalah sebagai berikut :

1. orang-orang Cina dari Dinasti Han mewajibkan para pegawai istana menyapa para kaisar hanya setelah mulut mereka diperharum dengan sejumput cengkih Jawa.

2. para pendeta Romawi mungkin sekali menggunakan pala sebagai dupa dan juga digunakan sebagai penyedap masakn di Konstantinopel pada abad kesembilan.

3. di zaman ratu Elizabeth, ramuan jamu pala harus tersedia untuk mengusir penyakit-penyakit yang menjengkelkan.

4. Alaric, raja Visigoth, pernah menuntut lebih dari satu ton merica dari orang-orang Romawi sebagai tebusan ketika ia menyerbu kota itu pada 410 M.

Aurora dan Kryptonite



Aurora dan kryptonite adalah dua buah kata yang menurut saya sangat unik, keren, penuh misteri dan indah. Mereka mengandung cahaya-cahaya yang unik yang mengandung makna berbeda walaupun keduanya berasal dari dunia yang berbeda. Maksud dari dua dunia yang berbeda karena aurora merupakan sebuah fenomena yang terjadi di sekitar kutub Utara dan Selatan sedangkan kryptonite merupakan hasil karya fiksi dari sebuah cerita Superman. Berikut akan saya paparkan mengenai dua kata tersebut.


Aurora


Pertama kali saya mendengar kata-kata aurora dari sebuah film fiksi luar negeri berjudul The Golden Compass. The Golden Compass adalah cerita pertama dari trilogy “His Dark Materials” sebuah novel karangan Philip Pullman. Film ini menceritakan bagaimana seorang cendikiawan menunjukkan slide berupa gambar sebuah kota dimana debu berada dan cendikiawan tersebut mencari tahu tentang debu dan aurora lebih jauh. Walaupun sebenarnya cerita tersebut tidak menekankan lebih jauh mengenai aurora (mungkin jilid berikutnya), tapi cerita ini sungguh sangat menginspirasi saya mengenai aurora.

Aurora adalah fenomena pancaran cahaya yang menyala-nyala pada lapisan ionosfer dari sebuah planet akibat interaksi antara medan magnetic yang dimiliki planet tersebut dengan partikel bermuatan yang dipancarkan oleh matahari. Di bumi, aurora terjadi di daerah sekitar kutub Utara dan Selatan.

Aurora yang terjadi di sebelah Utara dikenal dengan nama Aurora Borealis. Di Eropa, aurora sering terlihat kemerah-merahan di ufuk utara seolah-olah matahari akan terbit dari arah tersebut. Aurora borealis selalu terjadi di antara September dan Oktober (Waahh,,,, kalau kita ada di Eropa sekarang, mungkin bisa melihat aurora). Fenomena aurora di sebelah selatan dikenal dengan Aurora Australis. Aurora ini mempunyai sifat yang sama dengan aurora borealis.


Kryptonite



Kalau Anda seorang penggemar Superman pasti sudah tahu mengenai batu kryptonite. Batu kryptonite adalah batu meteor yang berasal dari planet Krypton yang konon planet asal Clark Kent ( Kal-el, Superman). Dari serial cerita Superman, Smallville, dapat diketahui bahwa ada beberapa warna dari batu kryptonite. Batu yang berwarna hijau lebih sering ditemui dan batu ini akan dapat melemahkan segala kekuatan yang dimiliki oleh Clark. Batu berwarna merah dapat membuat Clark menjadi ’jahat dan bukan dirinya sendiri’.

Ternyata batu kryptonite juga bukan hanya sebuah cerita fiksi. Ditemukan sebuah mineral yang memiliki nama ilmiah mirip dengan batu kryptonite yang dicuri Lex Luthor dari museum pada film Superman Returns. Mineral tersebut diteliti oleh para ahli dari London’s Natural History museum dan National Research Council, Kanada. Mineral tersebut digolongkan mineral baru dandan memiliki komposisi yang sama, namun ada perbedaan antara benda temuan para ahli dengan cerita fiksinya terutama dari warnanya. Dalam cerita fiksi, batu tersebut berwarna hijau, sedangkan yang ditemukan para ahli berwarna putih.