Nama Krakatau bermula dari beberapa pelayar yang memetakan wilayah Indonesia saat mereka melakukan ekspedisi untuk mencari rempah-rempah seperti van Linschoten, Blaen, Willem Lodewijksz, Hondius, Visscher dan Lucas Janszoon Waghenaer. Van Linschoten belum mampu menamai pulau tersebut (pulau Krakatau) dan tidak dapat mendeteksi adanya gunung runcing di pulau itu. Sedangkan Willem Lodewijksz mencatat begitu banyak pulau kecil di selat itu (Selat Sunda). Waghenaer lah yang pertama-tama menggambarkan pulau itu dan menamakannnya yang kemudian menjadi akrab di telinga kita.
Ada sebuah laporan kuno yang dibuat oleh seorang pastur Jesuit Prancis, Guy Tachard, yang mengisyaratkan bahwa nama tersebut sebetulnya adalah onomatopoeia (kesamaan bunyi dengan sesuatu yang lain). Dalam buku lognya, ia menulis bahwa ”kami dua kali memutari pulau Cacatoua, yang disebut demikian karena burung-burung putih yang hidup di pulau itu, yang tidak henti-hentinya mengicaukan nama itu.”
Ada lagi yang menganggap bahwa Krakatoa atau Krakatau pada dasarnya berasal dari salah satu dari tiga kata, karta-karkata, karkataka, atau rakata, yang merupakan kata-kata Sansekerta dan menurut orang Jawa kuno berarti ”udang” atau ”kepiting”. Ada sebuah kata Melayu, kelakatoe, yang berarti ”semut putih yang bisa terbang”.
Apapun arti kata Krakatau dan bagaimana asal mulanya, yang kita ketahui adalah sebuah gunung runcing yang berada di suatu pulau yang begitu eksotik tapi juga berbahaya.



