suatu makna kegagalan dan kekalahan
tanpa harus menyalahkan siapa-siapa, tanpa harus menyesali apapun,, yang harus kita lakukan adalah menatap ke depan tanpa harus menengok ke belakang, hanya sesekali saja kita perlu mengingatnya dengan hati yang ikhlas tentunya..
Minggu, 25 Oktober 2009
Ayo Gabung Kampanye 350. Berani?!
"Keseluruhan upaya Kampanye 350. Berani?! merupakan ajakan untuk berpartisipasi atas keprihatinan kita sebagai komponen masyarakat, meneguhkan komitmen agar berperan aktif dan menjadikan individu diri kita sebagai bagian dari solusi krisis perubahan iklim," tegas Dr Amanda Katili-Niode, selaku Manager TCP-Indonesia dalam siaran persnya.
Kampanye 350. Berani?! dilakukan oleh para presenter TCP-Indonesia terpilih, 54 orang presenter, yang dilatih langsung oleh AlGore, pendiri The Climate Project dan penerima penghargaan Nobel. Relawan TCP-Indonesia secara sukarela dan serentak melakukan presentasi pada 23 Oktober 2009 di berbagai perguruan tinggi dan akademi, kemudian pada 24 Oktober 2009 melaksanakan rangkaian acara Klinik Gaya Hidup Hijau dan penandatanganan deklarasi menggunakan canting di atas kain batik di Teater Utan Kayu dan dilanjutkan di Darmawangsa Square The City Walk.
Gerakan Kampanye 350. Berani?! merupakan bagian dari berbagai kampanye yang dilakukan dalam rangka mempersiapkan kesadaran dan komitmen menuju COP 15 UNFCCC di Kopenhagen, Denmark. Kunci pesan kampanye adalah 350. mengacu pada 350.ppm, yaitu tingkat konsentrasi CO2 di atmosfer yang aman bagi Bumi dan seisinya.
Menurut laporan Inter-governmental Panel on Climate Change (IPCC), panel antar-bangsa yang terdiri dari 1.300 lebih ilmuwan dan pakar ilmiah dunia pada Fourth Assessment Report, sebanyak 90 persen aktivitas manusia selama 250 tahun terakhir telah membuat planet kita semakin panas. Utamanya sejak Revolusi Industri, tingkat karbon dioksida atau CO2 itu beranjak naik, mulai dari 280.ppm menjadi 379.ppm dalam 150 tahun, tertinggi sejak 650.000 tahun terakhir! Bahkan, tingkat karbon dioksida pada September lalu sudah mencapai 384,78.ppm.
Level 384,78.ppm yang tercatat sekarang diprediksikan akan terus meningkat sebanyak 2.ppm tiap tahunnya, tingkat setinggi itu sudah dinilai membahayakan karena bisa mengakibatkan perubahan iklim yang mengerikan karena akan berdampak pada penipisan ketahanan pangan, peningkatan intensitas badai, kelangkaan spesies. Khusus di negara kepulauan seperti Indonesia, hal itu berdampak besar pada kenaikan suhu permukaan air laut yang mengakibatkan kadar asam di laut meninggi (asidifikasi) dan mengganggu pola alami ekosistem lautan yang berdampak pada perubahan suhu global, arus, dan angin.
IPCC juga menyimpulkan bahwa 90 persen gas rumah kaca (GRK) yang dihasilkan manusia selama 50 tahun ini telah secara drastis menaikkan suhu Bumi. Sebelum masa industri, aktivitas manusia tidak banyak mengeluarkan GRK. Akan tetapi, pertambahan penduduk, pembabatan hutan, industri peternakan, dan penggunaan bahan bakar fosil, seperti karbon dioksida, metana, dan dinitrogen oksida, menyebabkan GRK di atmosfer bertambah banyak dan menyumbang pada pemanasan global.
Sumber : Kompas.com
Europa Dapat Mendukung Kehidupan
Pernah dengar tentang keberadaan air di Europa? Satelit yang satu ini sudah sejak lama diperkirakan memiliki air dan diharapkan bisa memiliki kehidupan. Lautan global di Europa bahkan dua kali lebih banyak dari seluruh air di Bumi.
Penelitian terbaru dari Richard Greenberg dari Universitas Arizona menunjukkan kelimpahan oksigen yang dapat mendukung kehidupan di lautannya. Kali ini jumlah oksigennya seratus kali lebih banyak dari yang diperkirakan sebelumnya.
Kemungkinan adanya kehidupan di Europa memang masih tidak dapat dipastikan. Bagaimana tidak, lautan yang ada di satelit Jupiter itu berada beberapa mil di bawah es yang memisahkannya dari oksigen yang terbentuk di permukaan oleh partikel bermuatan. Tanpa oksigen, kehidupan masih mungkin ada di sumber air panas di dasar lautan melalui metabolisme kimiawi, yang berdasarkan pada sulfur atau produksi metana. Tapi lagi-lagi masih belum bisa dipastikan apakah dasar lautan memiliki lingkungan yang dapat mendukung kehidupan seperti itu.
Pada akhirnya, sebuah pertanyaan penting muncul yakni apakah ada cukup oksigen yang dapat mencapai lautan sehingga dapat mendukung proses metabolisme berbasis oksigen seperti yang kita kenal. Jawabannya muncul dari perkiraan permukaan Europa kala masih muda. Kondisi geologi dan kurangnya kawah akibat tabrakan menunjukan kondisi lapisan teratas es-nya yang mengalami pembaharuan secara terus menerus. Diperkirakan permukaan Euroa sekarang baru berusia 50 juta tahun, sekitar 1% dari usia Tata Surya.
Greenberg juga mengemukakan 3 proses umum terjadinya permukaan : peletakkan materi baru di permukaan secara berkala, proses pembukaan celah yang kemudian mengisi permukaan dengan es baru dari bawah, dan proses megganggu potongan permukaan yang ada dan menggantikannya dengan materi baru. Dari perkiraan pembentukan oksidan di permukaan, bisa diketahui laju hataran ke lautan itu demikian cepat dan konsentrasi oksigen bisa melampaui konsentrasi di lautan di Bumi hanya dalam beberapa juta tahun.
Bahkan diperkirakan, konsentrasi oksigen akan cukup banyak untuk mendukung tidak saja mikroorganisme melainkan juga fauna makro, hewan yang lebih kompleks – mirip organisme dengan kebutuhan oksigen yang lebih tinggi. Perbekalan oksigen yang terus menerus ini dapat mendukung sekitar 3 milyar kilogram makrofauna, dengan asumsi kebutuhan permintaan oksigennya setara dengan ikan di Bumi.
Nah, kabar baiknya, asal mula kehidupan di Europa ini bisa jadi mengalami penundaan selama beberapa milyar tahun sebelum oksigen pertama di permukaan mencapai lautan. Jika tidak ada keterlambatan ini makan pre-biotik kimia pertama dan struktur organik primitif pertama akan mengalami gangguan oleh oksidasi. Oksidasi ini membahayakan, kecuali jika si organisme telah berevolusi dan memiliki perlindungan dari efek bahaya itu.
Perlambatan yang serupa dalam hal pembentukan oksigen di Bumi tampaknya memiliki peran yang penting di awal pertumbuhan kehidupan.
Sumber : langitselatan.com
Kalkulasi Elektronegativitas
Elektronegativitas Pauling
Pauling pertama kali mengajukan[2] konsep elektronegativitas pada tahun 1932 sebagai penjelasan dari fenomena lebih kuatnya ikatan kovalen antar dua atom berbeda (A–B) dari yang diperkirakan dengan mengambil kekuatan rata-rata ikatan A–A dan B–B. Menurut teori ikatan valensi, "stabilisasi tambahan" dari ikatan heteronuklir ini disebabkan oleh kontribusi bentuk kanonis ion kepada ikatan.
Perbedaan elektronegativitas antara dua atom A dan B dapat dihitung dengan:
dengan Energi disosiasi (Ed) ikatan A–B, A–A dan B–B diekspresikan dalam elektronvolt. Faktor (eV)−½ disisipkan untuk menghasilkan nilai yang tidak berdimensi. Dengan metode ini, perbedaan elektronegativitas antara hidrogen dan bromin adalah 0.73 (energi disosiasi: H–Br, 3.79 eV; H–H, 4.52 eV; Br–Br 2.00 eV)
Oleh karena hanya perbedaan elektronegativitas yang dapat dihitung, kita perlu memilih sebuah titik acuan untuk membangun skala. Hidrogen dijadikan acuan karena ia membentuk ikatan kovalen dengan hampir semua unsur. Nilai elektronegativitasnya pertama kali ditentukan[2] sebagai 2,1, namun kemudian direvisi[5] menjadi 2,20. Selain itu, kita juga perlu memutuskan unsur manakah (dari dua unsur) yang memiliki elektronegativitas lebih besar. Pemutusan ini dapat dilakukan dengan menggunakan "intuisi kimia", misalnya pada hidrogen bromida yang terlarut dalam air membentuk H+ dan Br−, kita dapat berasumsi bahwa bromin lebih elektronegatif daripada hidrogen.
Untuk menghitung elektronegativitas Pauling sebuah unsur, kita memerlukan data energi disosiasi dari paling sedikit dua jenis ikatan kovalen yang dibentuk oleh unsur tersebut. Allred memutakhirkan nilai elektronegativitas Pauling pada tahun 1961 dengan melibatkan data-data termodinamika[5]. Nilai-nilai elektronegativitas Pauling yang direvisi inilah yang biasanya sering digunakan.
[sunting] Elektronegativitas Mulliken
Mulliken mengajukan bahwa purata aritmetik dari energi ionisasi pertama dan afinitas elektron haruslah adalah sebuah perhitungan dari kecenderungan sebuah atom menarik elektron-elektron.[6][7] Karena definisi ini tidak bergantung pada skala relatif sembarang, ia juga disebut sebagai elektronegativitas relatif,[8] dengan satuan kilojoule per mol atau elektronvolt.
Namun biasanya kita menggunakan transformasi linear untuk melakukan transformasi nilai absolut tersebut menjadi nilai yang lebih mirip dengan nilai Pauling. Untuk energi inonisasi dan afinitas elektron dalam elektronvolt,[9]
dan untuk energi dalam kilojoule per mol,[10]
Elektronegativitas Mulliken hanya dapat dihitung pada unsur-unsur yang afinitas elektronnya telah diketahui. Sampai dengan tahun 2006, terdapat 57 unsur yang afinitas elektronnya telah diketahui.
[sunting] Elektronegativitas Allred–Rochow
Allred dan Rochow beranggapan[11] bahwa elektronegativitas haruslah berhubungan dengan muatan sebuah elektron pada "permukaan" sebuah atom: semakin tinggi muatan per satuan luas permukaan atom, semakin besar kecenderungan atom tersebut untuk menarik elektron-elektron. Muatan inti efektif, Z* yang terdapat pada elektron valensi dapat diperkirakan dengan menggunakan kaidah Slater. Sedangkan luas permukaan atom pada sebuah molekul dapat dihitung dengan asumsi luas ini proposional dengan kuadrat jari-jari kovalen (rcov). rcov memiliki satuan ångström,
[sunting] Elektronegativitas Sanderson
Sanderson menemukan bahwa terdapat hubungan antara elektronegatvitas dengan ukuran atom dan mengajukan sebuah metode perhitungan yang didasarkan pada timbalbalikan volume atom.[12] Dengan panjang ikatan yang telah diketahui, elektronegativitas Sanderson memperbolehkan kita memperkirakan energi ikatan pada berbagai senyawa.[13] Selain itu, elektronegativitas Sanderson juga digunakan dalam berbagai investigasi kimia organik.[14][15]
[sunting] Elektronegativitas Allen
Definisi elektronegativitas Allen adalah salah satu yang paling saderhana. Ia mengajukan bahwa elektronegativitas berhubungan dengan energi rata-rata dari elektron valensi pada sebuah atom bebas,[16]
dengan εs,p adalah energi satu elektron dari elektron-elektron s dan p pada atom bebas dan ns,p adalah jumlah elektron s dan p pada kelopak valensi. Biasanya nilai tersebut diberikan faktor skala, 1,75×10−3 untuk energi dalam kilojoule per mol atau 0,169 untuk energi dalam elektronvolt, untuk menghasilkan nilai yang secara numeris mirip dengan elektronegativitas Pauling.
Energi satu elektron dapat ditentukan secara langsung dari data spektroskopi, sehingga elektronegativitas yang dihitung dengan metode ini kadangkala dirujuk sebagai elektronegativitas spektroskopik. Data-data yang diperlukan tersedia untuk hampir semua unsur, sehingga memperbolehkan kita memperkirakan nilai elektronegativitas unsur-unsur yang tidak bisa dihitung dengan metode lainnya, misalnya fransium dengan nilai elektronegativitas allen = 0,67. [17] Namun tidaklah jelas apa yang seharusnya dianggap sebagai elektron valensi untuk unsur-unsur blok d dan f, sehingga menyebabkan ambiguitas dalam perhitungan elektronegativitas menggunakan metode Allen.
Dalam skala ini, Neon memiliki elektronegativitas yang paling besar, diikuti oleh fluorin dan helium.
Daftar elektronegativitas Allen untuk golongan-golongan unsur utama
Baru-baru ini, sebuah skala elektronegativitas baru yang didasarkan pada elektrofilisitas sistem kimia diajukan oleh Noorizadeh and Shakerzadeh[18]. Dalam skala ini terlihat bahwa ia mempunyai korelasi yang signifikan dengan elektronegativitas Pauling dan Allred-Rochow.

![\chi_{\rm A} - \chi_{\rm B} = ({\rm eV})^{-1/2} \sqrt{E_{\rm d}({\rm AB}) - [E_{\rm d}({\rm AA}) + E_{\rm d}({\rm BB})]/2}](http://upload.wikimedia.org/math/d/7/4/d74424c73fed8531b863e9a58ec30f6a.png)



